Rusia Terapkan Aturan Baru Tanpa Sang Juara


Pialaduniarusia.net - Perjalanan panjang terhadap kualifikasi Piala Dunia 2018 sudah rampung jauh- jauh hari di Lima, yang merupakan ibukota Peru. Di ibukota Peru itu, Rabu (15/11/2017) atau Kamis pagi WIB, perhelatan yang berlangsung selama 33 bulan itu beres dituntaskan dan diakhiri dengan pesta tuan rumah yang sukses menjajal tamunya, yaitu Selandia Baru 2-0 di laga play-off.

Laga itu merupakan laga kedua bagi Peru dan Selandia Baru. Peru berpesta, pasalnya, mereka sendiri memang sudah menunggu sangat lama untuk kembali berlaga di Piala Dunia, karena Terakhir kali, Peru tampil 36 tahun lalu! "Terima kasih kepada seluruh ksatria yang telah memberi kebahagiaan ini. Mari kita rayakan sukses ini," ujar Presiden Peru, Pedro Pablo Kuczynski. Bahkan, gemuruhnya kemenangan tersebut sampai mampu menghidupkan alarm detektor gempa di kota Lima.

Perlu diketahui bahwa Sebanyak 25 tim lolos langsung melalui kualifikasi dan Sisanya, yaitu enam tim, lolos melalui play-off. Disamping itu Brasil, mulus di zona Amerika Latin. Mereka jadi tim pertama yang memastikan diri lolos ke Rusia. Aturan Baru Disamping itu langkah federasi sepakbola dunia, FIFA dalam upayanya untuk memerangi tindak rasisme di sepakbola rupanya masih menemui titik buntuk dan belum juga bisa diwujudkan. Pasalnya, berbagai cara pun sebelumnya sudah pernah dilakukan untuk menghentikan perbuatan tersebut.

Mulai dari hal yang sederhana seperti membentangkan banner "Say No To Racism" jelang kick-off, hingga beberapa ancaman untuk mendepak klub di suatu kompetisi jika suporternya memang terlibat rasisme. Tetapi, yang namanya manusia memang selalu saja perbuatan tercela itu terjadi. Di Piala Dunia 2018 nanti, FIFA sediri diharapkan bisa diminta untuk bertindak tegas jika memang terdapat oknum yang melakukan tindak rasisme terseubt.

Dan aksinya yaitu dengan langsung menghentikan pertandingan. Gagasan keras tersebut dilontarkan langsung oleh politikus asal Inggris, Jeremy Corbyn. Dirinya mengkhawatirkan bahwa ajang Piala Dunia yang digelar di Rusia tahun ini akan memunculkan banyak kasus seperti rasialis, xenofobia, homofobia, hingga anti-semitism. Jeremy mengatakan bahwa dalam aturan formal, pihak di manajemen (FIFA atau UEFA) harus lah mengerti.

Dirinya mengharapkan bahwa pesan haruslah diperhatikan dan pihak terkait harus melakukan tindakan tegas, ketika permasalahan masuk ke dunia sepakbola. Tanpa Juara Dunia Di luar itu, yang juga menarik serta memprihatinkan ternyata adalah untuk pertama kali dalam hampir 60 tahun terakhir di Piala Dunia, Italia gagal untuk ikut berpartisipasi di kompetisi ini. Italia telah tersungkur karena gagal di laga play-off dari Swedia. Italia juara dunia 1934, 1938, 1982, dan 2006. Mungkin bisa digambarkan bahwa bagi sebagian orang, absennya Italia di Rusia, seperti pizza yang tidak ada keju. Hal tersebut sangat beralasan karena, mereka punya sejarah panjang di ajang Piala Dunia.

Karena Italia yang termasuk tim paling banyak menjadi juara dunia. Meskipun begitu, absennya Italia sebenarnya tidak terlalu mengagetkan. Karena bila di terlisik terhadap performa mereka sejak awal kualifikasi, memang dianggap tidak meyakinkan. Hadirnya sang pelatih Gian Piero Ventura dianggap oleh sebagian orang, merupakan sebuah kesalahan.

Begitu pula dengan taktiknya untuk mempertahankannya sejumlah pemain veteran, seperti Gianluigi Buffon, Barzagli, De Rossi, dan juga Chiellini. Sangat disayangkan bukan? Karena banyak potensi pemain muda Italia yang lebih baik. Meskipun luar absennya Italia, sebenarnya telah sedikit memberi kesempatan lebih besar bagi tim- tim yang tidak berkesempatan untuk unjuk kebolehan. Apalagi, tim-tim yang punya tradisi kuat di Piala Dunia juga sudah “Gagal” Sebut saja Belanda, Chile, atau Amerika Serikat. Oleh karena itu selamat datang Piala Dunia dengan "tradisi" yang baru ini.

Postingan terkait: